Assalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
MANUSIA ATO MESIN……?
Pendahuluan
Akhir-akhir ini, banyak sekali praktisi dan ahli manajemen yang menekankan pentingnya peran manusia dalam menentukan keberhasilan sebuah institusi, baik institusi di sektor swasta maupun di sektor publik. Kenichi Ohmae dalam The Borderless World menyatakan bahwa ‘sama halnya dengan perusahan-perusahan, kesejahteraan negara-negara bergantung kepada kemampuannya untuk menciptakan nilai dengan bertumpu pada orang-orangnya, bukan melalui pemanfaatan sumberdaya alam maupun teknologi. Ketika ditanya pendapatnya tentang lima faktor utama yang menentukan keberhasilan sebuah perusahaan dalam proses transformasinya dari perusahaan yang buruk menjadi perusahaan yang hebat, Walter Bruckart menyatakan bahwa faktor pertama adalah manusia, faktor kedua adalah manusia, faktor ketiga adalah manusia, faktor keempat adalah manusia dan faktor ke lima juga manusia. Jeffrie Peiffer menyatakan bahwa selama berpuluh-puluh tahun para eksekutif dan pakar manajemen mencari sumber keberhasilan sebuah perusahaan di tempat yang salah. Dia menyatakan bahwa keberhasilan sangat ditentukan oleh cara sebuah perusahaan memperlakukan orang-orangnya.
Di balik pernyataan-pernyataan yang kelihatannya sederhana itu ada beberapa hal yang perlu dicermati lebih jauh. Pertama, manusia, baik sebagai individu maupun sebagai bagian dari sebuah kelompok adalah mahluk yang kompleks atau multi dimensi. Perlu dipertanyakan, dari sekian banyaknya dimensi yang ada pada seorang manusia dimensi manakah yang memang sangat besar pengaruhnya dalam menentukan keberhasilan? Kedua, manusia berada di tengah-tengah lingkungan yang juga kompleks, apakah itu lingkungan organisasional atau sosial. Di sini lalu timbul pertanyaan lain, dimensi mana yang berperan besar dalam jenis lingkungan tertentu.?
Akhir-akhir ini banyak pihak menonjolkan pentingnya kompetensi. Di perusahaan-perusahaan atau di beberapa organisasi di sektor publik orang berbicara tentang competence-based pay, competence-based performance appraisal, competence-based people development. Bahkan dalam bidang pendidikanpun di Indonesia sekarang diperkenalkan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Penonjolan seperti ini menimbulkan kesan bahwa dimensi kompetensi yang dimilikilah yang menjadi faktor yang berkontribusi paling besar terhadap keberhasilan sebuah institusi.
Pembahasan
Manajemen sebagai sebuah disiplin baru lahir pada awal dekade kedua atau akhir dekade pertama abad ke dua puluh. Dalam perkembangannya sampai saat ini, banyak pendekatan dan konsep manajemen yang ditawarkan oleh pakar manajemen . Hal yang sangat menarik dalam perkembangan tersebut adalah adanya perubahan cara pendekatan yang menyolok pada tahun 1970-an. Selama 60 tahun pertama ( 1910-1970) pemikiran dalam manajemen sangat didominasi oleh pendekatan yang bersifat rasional-saintifik. Sejak 1970 sampai kini pemikiran dalam bidang manajemen mulai memberi tekanan pada pendekatan kualitatif-humanistik.
Pada era rasional-saintifik ini, dua puluh lima tahun pertama (1910-1935) dipakai untuk menentukan atau menemukan struktur organisasi atau struktur kerja yang efisien. Ini adalah eranya Frederick Taylor dan Henry Fayol. Dua puluh tahun berikutnya (1935-1955) para pemikir dan praktisi manajemen mencoba menerapkan model-model matematik atau cara-cara analisis kuantitatif untuk meningkatkan produktivitas di tempat kerja. Ini adalah masa tumbuhnya model-model optimasi dalam bidang operation research. Lima belas tahun berikutnya ( 1955-1970) pemikir manajemen mencoba menerapkan cara berfikir sistem dalam bidang manajemen. Pada saat itu berpikir sistem atau pendekatan sistem adalah topik pembicaraan yang hangat diantara orang-orang manajemen.
Era kualitatif-humanistik dimulai dengan diperkenalkannya pendekatan berpikir strategik dalam manajemen. Strategi korporat, strategi bisnis, perencanaan strategik, analisis SWOT adalah topik pembicaraan yang dianggap mutakhir antara tahun 1970-1980. Sesudah itu para pemikir manajemen masuk ke dalam bidang yang lebih ‘lunak’ lagi yaitu budaya perusahaan. Pakar manajemen berbicara dan meneliti tentang pentingnya tata-nilai yang menjadi inti budaya perusahaan dalam menentukan kinerja perusahaan. Sesudah itu, pada tahun 1980-1985, para pakar dan pemikir manajemen memasukkan manajemen inovasi sebagai salah satu bagian dari disiplin manajemen. Menjelang tahun 2000 para pakar manajemen berbicara tentang organisasi belajar, manajemen pengetahuan, manajemen perubahan, dan modal-maya (virtualcapital).
Perubahan pendekatan dalam manajemen itu tidak terjadi dengan sendirinya. Ada faktor-faktor eksternal atau yang berada di luar institusi dan faktor-faktor internal atau yang berada dalam institusi yang mendorong para pakar dan praktisi manajemen untuk menemukan pendekatan yang lebih sesuai dengan tantangan yang mereka hadapi.
Sumber Daya Manusia (SDM) adalah faktor sentral dalam suatu organisasi. Apapun bentuk serta tujuannya, organisasi dibuat berdasarkan berbagai visi untuk kepentingan manusia dan dalam pelaksanaan misinya dikelola dan diurus oleh manusia. Jadi, manusia merupakan faktor strategis dalam semua kegiatan.
Mengatur manusia dalam managemen sangatberhubungan erat dengan pengorganisasian manajemen itu sendiri. Hubungan kausal antara variable manajemen adalah telah dapat ditentukan dan dinyatakan secara umum, tetapi hal yang bersifat umum itu masih dapat diteliti lagi melalui riset dan modifikasi yang lebih maju.
Kunci man power management adalah memperlakukan manusia sebagai manusia seutuhnya. Perusahaan perlu menyadari bahwa setiap orang mempunyai dua kebutuhan utama. Pertama, memenuhi kebutuhan minimum bahwa setiap orang memerlukan hidup layak dengan kecukupan sandang, pangan, papan. Kedua, adalah kebutuhan orang untuk bisa berkontribusi memenuhi kepuasan akan harga dirinya.
Selama mindset kita tidak mengarah pada pengembangan manusia seutuhnya, maka sistem dan metodologi apapun yang kita gunakan tidak akan efektif. Apa yang harus dilakukan perusahaan untuk memenuhi kebutuhan manusia seutuhnya meliputi pula pemahaman bahwa setiap orang mempunyai keluarga, kehidupan sosial, dan agama. Karena itu sekarang banyak perusahaan mulai mengadakan family day, children day, merayakan atau memberi ucapan selamat ulang tahun kepada karyawan, memberi asuransi kesehatan, fasilitas ibadah, dan olah raga. Ini artinya perusahaan menyadari bahwa mereka perlu menyentuh seluruh aspek kehidupan karyawannya sebagai manusia seutuhnya. Sampai batas tertentu beberapa perusahaan ada yang mengizinkan karyawannya cuti untuk melakukan berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, ikut sebagai anggota organisasi tertentu.
“Kecenderungan setiap orang untuk memberikan kontribusinya yang terbaik, sangat ditentukan oleh seberapa jauh visi perusahaan sejalan dengan visinya”. Ketika manajemen suatu perusahaan tidak ada waktu untuk berkomunikasi dengan bawahannya, keadaan itu bisa diartikan pula bahwa perusahaan tersebut tidak memperlakukan karyawannya sebagai manusia seutuhnya. Bisa jadi karyawan hanya dianggap sebagai “angka” atau “mesin”. Di perusahaan-perusahaan yang baik selalu ada forum untuk bertemu dengan karyawan di setiap level. Ada forum dialog mulai dari kelompok kecil hingga pertemuan bersama dalam skala lebih besar. “Bayangkan jika karyawan di suatu pabrik, bekerja delapan jam sehari sebagai operator mekanik mesin dan bertahun-tahun hanya bertugas mengawasi produk yang keluar otomatis dari mesin tersebut dan karyawan tersebut jarang diajak komunikasi oleh pihak manajemen perusahaan. Sikap tersebut sama dengan memperlakukan karyawan tak ubahnya seperti robot. Ini salah satu contoh kasus bagaimana seharusnya memanusiakan orang dalam pekerjaan”.
Bagaimana cara mengatur manusia dalam manajemen ?
Permasalahan tersebut hanya dapat diatasi dengan cara menyesuaikan tingkaj laku dan reaksi dari seluruh angota atau mengeluarkan anggota-anggota tertentu kelompok yang bersangkutan.
Tingkah laku tersebut dapat dipahami dengan dasar sebagai berikut:
-
Mengakui bahwa setiap orang merupakan unsur yang pengaruh pada dasarnya setiap orang merupakan individu yang tidak ada seorangpun yang sama benar dengan orang lain.
-
Mengetahui tujuan-tujuan pribadinya untuk dapat memahami tingkah lakunya. Berbagai orang memakai cara untuk mencapai tujuan yang sama atau yang berlainan. Cara-cara yang berlainan tersebut timbul terutama karena perbedaan pandangan, kepribadian dan kemampuan masing-masing individu.
-
tindakan-tindakan seseorang dapat dibenarkan oleh dirinya sendiri alasannya ialah bahwa tindalan tersebut adalah konsisten dengan pandangan dan keyakinan dlingkungan dimana orang tersebut berada.
Foulkes (1975) memprediksi bahwa peran SDM dari waktu ke waktu akan semakin strategis dengan ucapan berikut: “For many years it has been said that capital is the bottleneck for a developing industry. I don’t think this any longer holds true. I think it’s the work force and the company’s inability to recruit and maintain a good work force that does constitute the bottleneck for production..…. I think this will hold true even more in the future.”
Dua aliran teori yang ada pada organisasi yaitu pertama, aliran teori organisasi ilmah yang lebih menekankan pada Human Relation dalam pelaksanaan organisasinya, sedangkan yang kedua, aliran teori organisasi klasik, dimana dalam pelaksnaan organisasinya masih sangat didominasi dan digerakkan secara sentralisasi oleh manajer selaku pemimpin organisasi itu. Untuk lebih jelasnya lagi maka dapat dijabarkan sebagai berikut:
Aliran Teori Organisasi Metode Ilmiah
Managemen adalah suatu keistimewaan dalam menangani masalah waktu dan hubungan manusia ketika hal tersebut muncul dalam organisasi. Kita memperhatikan bagaimana organisasi mempengaruhi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ide kita tentang waktu dalam organisasi mempunyai beberapa elemen sebagai berikut.
- Managemen adalah usaha menciptakan masa depan yang lebih baik, dengan mengingat masa lalu dan masa kini.
- Managemen dipraktekkan di dalam dan refleksi dari era sejarah tertentu.
- Managemen adalah kegiatan yang menghasilkan konsekuensi dan pengaruh yang muncul dengan berlalunya waktu.
Dimana penekankan hubungan manusia juga melibatkan beberapa ide sebagai berikut:
- Manager bertindak dalam hubungan yang bersifat dua arah; setiap pihak dipengaruhi oleh yang lain.
- Manager bertindak dalam hubungan yang pengaruhnya menyebar kepada orang lain, dapat membuat menjadi lebih baik dan bisa pula lebih buruk.
- Manaer dengan cepat memainkan hubungan simultan berganda. (Daniel R. Gilbert, JR, 1999:8)
Frederick W. Taylor (1856-1915) mendasarkan filosofinya pada empat prinsip-prinsip dasar sebagai berikut.
1. Perkembangan managmen ilmiah yang sebenarnya, jadi metode terbaik untuk melaksanakan setiap tugas dapat ditentukan.
2. Seleksi ilmiah para pekerja, sehngga setiap pekerja akan diberi tanggung jawab melakukan tugas yang paling cocok dengannya.
3. Pendidikan dan pengembangan ilmiah para pekerja.
4. Kerja sama bersahabat dan secara pribadi antara manajemen dan tenaga kerja.
Taylor mempertahankan pendapat bahwa sukses dari prinsp-prinsip ini memerlukan ”revolusi mental yang lengkap” pada pihak managemen dan tenaga kerja. Singkatnya, Taylor percaya bahwa manajemen dan tenaga kerja mempunyai kepentingan bersama dalam meningkatkan produktivitas.
Walaupun metode Taylor menyebabkan kenaikan dramastis dalam produktivitas dan upah yang lebh tinggi dalam sejumlah kasus, para pekerja dan serikat pekerja mulai menentang pendekatannya karena mereka takut bekerja lebih berat dan lebih cepat akan membut mereka lelah pekerjaan apa pun, yang menebabkan pekerja yang bersangkutan dirumahkan.
Frank B, dan Lilian M. Gilberth (1868-1924 dan 1878-1972) memberikan kontribusi bagi gerakan manajemen ilmiah sebagai tim suami-isteri. Lilian dan Frank bekerja sama mempelajari kelelahan dan gerakan sertamemfokuskan pada bebagai cara untuk mendorong kesejahteraan pekerja individual. Bagi mereka, tujuan akhir dari manajemen ilmiah adalah membatu para pekerja mencapai potensial penuh sebagai manusia.
Dalam konsep mereka, gerakan dan kelelahan saling berkaitan, setiap gerakan yang dihilangkan akan mengurangi kelelahan. Mereka mencoba mencari gerakan paling ekonomis untuk setiap tugas dengan tujuan meningkatkan prestasi dan mengurangi kelelahan.kedua Gilbreth ini mempunyai alasan bahwa penelitian mengenai gerakan akan meningkatkan moral pekerja karena manfaat fisiknya sudah jelas dan karena hal itu menunjukkan perhatian manajemen terhadap pekerja.
Aliran Teori Organisasi Klasik
Yang menjadi pelopor dari teori klasik disini adalah Henri Fayol. Henry Fayol (1841-1925) pada umumnya diakui sebagi orang pertama yang menemukan tingkah laku menejerial, tetapi karena dia orang pertama yang membuatnya menjadi sistematik. Prinsip manajemen dari Fayol:
1. Pembagian Tugas. Semakin orang menjadi spesialis, semakin efisien mereka dapat mengerjakan tugasnya. Lini perkitan moder dapat dianggap sebagi contoh penerapan dari prinsip ini.
2. Wewenang. Manajer harus memberikan perintah sehingga tugas selesai. Walaupun wewenang formal membenarkan mereka memberi perintah, manajer tidak selalu memaksa kepatuhan kecuali mereka juga mempunyai wewenang pribadi (seperti pengalaman yang relevan).
3. Disiplin. Anggota organisasi perlu menghormati peraturan dan persetujuan yang mengatur organisasi. Bagi Fayol, disiplin berasal dari pemimpin yang baik pada semua tngkat dari organisasi, persetujuan dari kepemimpinan yang baik pada semua tingkat dari organisasi, persetujuan yang adil (seperti mebekali untuk menghargai prestasi superior), dan penerapan sanksi yang bijakasana untuk pelanggaran.
4. Kesatuan Komando. Setiap karyawan harus menerima instruksi hanya dari satu orang. Fayol percaya bahwa kalau seorang karyawan menjadi bawahan dari beberapa orang manajer, akan terjadi konflik dalam instruksi dan kekacauan dari wewenang.
5. Kesatuan Dalam Pengarahan. Operasi dalam organisasi yang mempunyai obyektif sama harus diarahkan hanya oleh seorang manajer menggunakan satu rencana.
6. Kepentingan Individu Dibawah Kepentingan Umum. Dalam keadaan apapun, kepentingan pribadi karyawan tidak bleh didahulukan dari kepentingan organisasi secara keseluruhan.
7. Imbalan. Kompensasi untuk pekerjaan yang dilakukan harus adil bagi karyawan dan majikan.
8. Sentralisasi. Mengurangi peran bawahan dalam pembuatan keputusan adalah sentralisasi; meningkatkan peran mereka adalah desentralisasi.
9. Hierarki. Garis wewenang dalam sebuah organisasi, sekarang sering kali digambarkan dengan rapi berupa kota-kotak dan garis dari bagan organisasi dalam berjalan menurut peringkat dari manajemen puncak ke tingkat paling bawah dari perusahaan.
10. Susunan. Material dan orang harus berada di tempat yang tepat pada waktu yang tepat. Orang terutama, harus pada pekerjaan atau posisi yang paling cocok baginya.
11. Keadilan. Manajer harus bersahabat dan adil kepada bawahannya.
12. Stabilitas Staf. Banyaknya karyawan yang keluar menggunakan fungsi efisien dari sebuah organisasi.
13. Inisiatif. Bawahan harus diberi kebebasan untuk memikirkan dan melaksanakan rencana mereka, walaupun beberapa kesalahan mungkin terjadi.
14. Semangat Korps. Mempromosikan semangat tim akan memberikan rasa kesatuan pada organisasi, bahkan faktor yang terkecilpun harus membantu mengembangkan semangat.
Peralihan cara pendekatan dari rasional-saintifik ke kualitatif-humanistik menandai juga peralihandalam cara pandang mengenai organisasi. Pendekatan rasional-saintifik cenderungmemandang organisasi sebagai mesin, dan pendekatan kualitatif-humanistik cederungmamandang organisasi sebagai mahluk hidup atau sebuah komunitas. Dengan masuknyakonsep budaya organisasi, manajemen inovasi, dan organisasi belajar maka organisasi dipandangsebagai mahluk hidup atau komunitas.
Organisasi sebagai mesin melaksanakan tujuan yang telah ditetapkan oleh perancangnya,sedangkan organisasi sebagai mahluk hidup atau komunitas menetapkan dan mimiliki tujuan sendiri. Agar supaya efektif sebuah mesin harus dikendalikan oleh operatornya, sedangkanmahluk hidup atau komunitas dipengaruhi melaui proses interaksi yang mungkin saja mengubah orang yang mempengaruhi atau dipengaruhi. Memandang organisasi sebagi mesin berartiorganisasi tidak bisa memperbaharui dirinya sendiri, sedangkan cara pandang organisasi sebagaimahluk hidup atau komunitas melihat organisasi mampu memperbarui dirinya sendiri. Memandang organisasi sebagai mesin berarti melihat bahwa identitas organisasi dibuat oleh penciptanya, sedangkan memandang organisasi sebagai mahluk hidup berarti bahwa organisasipunya identitasnya sendiri. Dalam cara pandang organisasi sebagai mesin, tata-nilai, citacita, pekerjaan bermakna, merupakan isu yang tidak relevan, sedangkan dalam cara pandang organisasi sebagai mahluk hidup atau komunitas cita-cita, nilai-nilai, pekerjaan bermakna, adalah isu besar.
Cara pandang organisasi sebagai komunitas membawa perubahan besar dalam cara pandang mengenai peran dan posisi manusia dalam organisasi. Dalam cara pandang organisasi sebagai mesin, manusia dipandang hanya sebagai salah satu faktor input yang harus diproses untuk menghasilkan output. Manusia disetarakan dengan faktor input yang lain seperti mesin, material, uang, dan metoda . Manusia diperlakukan hanya sebagai salah satu faktor produksi diantara faktor produksi yang lain. Secara implisit di sini manusia diperlakukan sebagai benda, hanya sebagai sumberdaya yang sekarang sering disebut sebagai sumber daya manusia.
Sebagai sumberdaya, manusia dikelola dan dibuat agar sesuai dengan sistem. Dipihak lain, cara pandang organisasi sebagai komunitas memandang manusia sebagai anggota komunitas yang tumbuh dan berkembang bersama komunitasnya. Mereka bukanlah input, tetapi pelaku yang bertanggung jawab bersama atas kemajuan komunitasnya. Sebagai manusia, mereka dipimpin dan
sistem-sistem dirancang untuk manusia. Di sini manusia diperlakukan sebagai manusia yang utuh, dihormati seluruh dimensi kemanusiannya, termasuk didalamnya cita-citanya, nilainilainya, hati-nuraninya, kepercayaan dirinya, semangat belajarnya.
Dalam cara pandang manusia sebagai sumberdaya, faktor yang terpenting adalah kompetensinya, sedangkan dimensi-dimensi lain dari manusia dianggap tidak perlu diperhatikan. Dalam cara pandang organisasi sebagai komunitas, dimensi yang di luar kompetensi tidak kalah pentingnya bahkan sering kali lebih penting dalam menentukan keberhasilan seseorang dan komunitasnya. Jadi, dalam cara pandang organisasi sebagai komunitas, maka potensi manusia
lebih dari kompetensi.
Betapa rusaknya human relation dalam organisasi formal. Ini merupakan suatu konsekuensi logis dari sebuah relasionalitas sebagai panduan organisasi. Tata perilaku organisasional dipandu dan digerakkan oleh hal-hal yang logis. Sistem interaksi dibangun dengan aturan yang serba logis: ada atasan ada bawahan; ada fungsi lini dan fungsi staf; ada benar salah; ada reward ada sanksi. Digabung menjadi satu organisasi merupakan sistem mekanisme, seperti mesin dengan ujungnya mendapatkan profit bukan benefit.
Terdapat perbedaan yang mendasar antara profit orinted dengan benefit oriented. Yang pertama hanya akan mendatangkan finansial atau kesejahteraan lahir saja. Yang kedua tidak saja mendatangkan kesejahteraan lahir tetapi juga kesejahteraan batin.
Perlu dicatat bahwa organisasi bukanlah sistem mekanisme kerja mesin, bukan sekedar hubungan fungsional antar komponen benda mati. Melainkan merupakan sistem inter aksi sosial antar subjek (anggota) yang masing-masing memiliki kondisi batin, nilai, dan motif yang berbeda. Mereka, sesungguhnya, menginginkan sebuah interaksi yang bukan karena adanya komando organisasional. Melainkan lebih dari itu karena kebutuhan sebagai makhluk sosial. Pemaksaan terhadapnya dengan jalur komando hanya akan melahirkan interaksi semu yang di dalamnya menyimpan sejumlah masalah yang tak berujung: konflik, stress, sikut-menyikut teman sekerja, jilat-menjilat, hingga tega memakan keringat teman.
Kekokohan organisasi bukan terletak pada aturan formal yang ketat yang mengabaikan unsur personal-emosional. Melainkan sejauh mana organisasi mampu membangun kedekatan emosional antar anggotanya, lepas dari jerat-jerat prosedural dan struktural yang kaku, yang justru membatasi kebutuhan manusia yang paling mendasar: kebersamaan. Ketika kebersamaan, kekitaan, dapat dibangun sebagai kultur organisasi maka kekokohan akan menyertainya.
Sekali lagi saya tekankan bahwa organisasi merupakan sistem interaksi sosial (bukan sistem mesin) menuju terwujudnya suatu integrasi organisasi. Setiap perilaku organisasional/sistem interaksi dipengaruhi atau dipandu oleh sistem nilai yang dianut oleh pelakunya (anggota organisasi). Nilai mendasari perilaku seseorang. Hati merupakan sumber nilai tertinggi dalam interaksi. Di dalam hati terdapat sejumlah nilai-nilai Ilahiyah (bersumber dari Tuhan) yang mampu memberi kesejukan hidup bersama. Nilai-nilai itu jika diaktualisasikan ke dalam kehidupan kolektif organisasi akan memancarkan sinar kasih sayang berupa cinta. Hubungan interaksional, atau yang sering disebut hubungan antar manusia (human relation) yang dilandasi kecintaan kepada sesama akan menghasilkan hubungan manusia mutualisme yang tidak dapat digantikan oleh motif apapun.
Kerendahan hati merupakan pangkal tolak interaksi mutualisme, yang bisa diterima oleh siapa saja sekaligus mampu menembus batas-batas struktural dan kultural organisasi. Kerendahan hati adalah “Titik Tuhan“ (ﷲ), tempat di mana semua ras manusia (berpangkat atau pun tidak), tertambat hatinya melalui getaran hati yang oleh Agustian (2001) disebut dengan “anggukan universal”. Pada titik ini pula manusia dapat menyamakan persepsi dalam segala hal urusan organisasional, tanpa ada rasa superioritas.
Dalam kaitannya dengan pembenahan human relation yang selama ini tercabik-cabik (akibat pendewaan rasionalitas, akan memberikan jalan tengahnya. Pertama, kerendahan hati adalah ungkapan kejujuran bergaul dengan orang lain. Jujur adalah apa adanya sesuai dengan suara hati. Kejujuran adalah suatu hal yang sangat dibutuhkan dalam membangun suatu kepercayaan. Hilangnya kepercayaan antar anggota organisasi hanya akan menimbuikan kecurigaan yang justru merupakan awal dari rusaknya human relation. Kalau Anda tidak percaya pada bos atau pada anak buah, apa jadinya?
Kejujuran merupakan tali pengikat organisasi yang paling kuat. Di saat krisis muncul, saat tali organisasi mulai rentan, perusahaan di ambang kebangkrutan, tali kejujuran tak rentan diterjang kebangkrutan sekalipun. Adalah Lely Martiwi (Kompas 23 Maret 2003 ), pemilik perusahaan REF Graphika Jakarta, telah membuktikannya. Pada saat krisis ekonomi 1997/1998 order percetakannya sepi sehingga gaji karyawan sering terlambat. Namun dengan kejujuran, keterbukaan hati pemiliknya, karyawan sangat memahaminya, dan bahkan membuat mereka rajin mencari order.
Kedua, kerendahan hati adalah awal lahirnya empati atau perhatian pada orang lain. Sulit kiranya kalau Anda merasa superior untuk bisa memahami perasaan orang lain. Empati hanya akan tercipta bila Anda mau menerima hati orang lain. Empati menjadi suatu hal yang sangat penting dalam manajemen emosional. Menurut catatan US Departement of Labour setidaknya 46% karyawan keluar dari tempat kerjanya hanya karena tidak mendapatkan empati dari pimpinanya. Empati adalah salah satu bentuk penghargaan kemanusiaan yang tertinggi seligus tempat curahan hati. Sayangnya banyak pimpinan yang pelit soal harta Tuhan yang satu ini. Padahal banyak hal bisa digali, dari soal pribadi hingga inspirasi. Menurut para peneliti dari Center for Creative Leadership, mengatakan bahwa kegagalan berempati merupakan alasan paling kuat mengapa seseorang pemimpin gagal.
Ketiga, kerendahan hati merupakan bentuk dari kecerdasan hati level tinggi. Tidak semua orang memilikinya, dan hanya orang-orang yang berani secara ikhlas mau melepaskan atribut material (pangkat, jabatan, gengsi, dan sebagainya) saja yang mampu memilikinya. Pendeknya, orang yang rendah hati adalah orang yang tidak mudah dipicu oleh impuls kemarahan: orang yang mampu mengelola emosinya. Bila ini yang dijadikan motif interaksional, maka penyakit organisasi seperti konflik disfungsional, stress, kebencian, dendam, dan permusuhan dapat dihindarkan. Iklim kerja pun terasa sejuk sebagai prakondisi produktifitas kerja.
Keempat, bila kerendahan hati digabung dengan ketulusan hati (keikhlasan memberi hanya dengan motif cinta sesama) akan memancarkan sinar-sinar kasih kebahagiaan bagi orang lain. Interaksi dengan motif keikhlasan dan ketulusan akan menampilkan perangai wajah yang berseri-seri, ramah dan anggun. Bila ini dilakukan di level manajerial-horisontal akan memberikan kedekatan emosional (tidak sekedar say hello). Bila dilakukan oleh para manajer kepada anak buahnya akan memberikan kesejahteraan batin. Tersenyum dan menyapa anak buah dengan sentuhan kasih merupakan penghargaan yang tak ternilai harganya.
Terlepas dari semua penjelasan tentang Manusia atau Mesin diatas, bahwasannya gaji juga mempengaruhi para pegawai dalam meningkatkan motivasi pegawai dalam produtivitasnya.
Angin segar berhembus ke jajaran birokrasi yaitu para Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan TNI/Polri, karena pemerintah berencana akan menaikkan gaji mereka tahun 2006. Rencana itu dikemukakan Manteri Keuangan Jusuf Anwar dan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negera Taufik Effendi. Kendatipun rencana kenaikan gaji 20 persen masih relatif kecil, namun pemerintah telah membuktikan komitmennya untuk meningkatkan penghasilan PNS dan TNI/Polri, yang memang sudah sangat lama didambakan dan dinanti-nantikan mereka dengan penuh harap. Hal itu cukup beralasan, mengingat harga kebutuhan pokok dari hari ke hari memperlihatkan trend yang naik, sedangkan gaji mereka tetap. Kondisi objektif yang terjadi di kalangan PNS itu, dalam rangka mencukupi kebutuhan hidupnya, membawa implikasi terjadinya penyalahgunaan wewenang, ngobjek ke sana-sini, cari proyek, bahkan ada PNS yang terlibat kriminalitas seperti menjambret dan sebagainya. Karenanya tujuan pemerintah untuk mewujudkan “clean goverment” dan “good governance” masih perlu perjuangan yang konsisten dan maksimal pada masa-masa mendatang.
Kesimpulan
Hal yang pelik dalam transformasi sebuah institusi adalah menemukan cara untuk menyelaraskan idealisme pribadi dengan idealisme institusi. Bila hal ini dapat dilakukan maka para anggota akan merasakan bahwa cita-cita institusi adalah juga cita-cita mereka, mereka akan merasa bahwa mereka akan dapat mewujudkan mimpi-mimpi mereka dengan memberikan yang terbaik dalam mewujudkan idealisme institusi, mereka merasa tumbuh dan berkembang bersama institusi. Dalam banyak kasus, pimpinan sebuah intitusi dan anggota-anggotanya tidak berhasil menemukan keselarasan ini atau tidak berhasil membangun idealisme bersama sehingga orang-orang atau kelompok-kelompok berjalan dengan cita-citanya masing-masing. Dalam hal ini, visi atau cita-cita institusi baru menjadi sebuah wacana, belum menjadi keyakinan bersama yang bersemayam dalam hati para anggota dan belum diwujudkan dalam tindakan nyata.
Dalam proses transformasi, idealisme punya bermacam-macam fungsi. Idealisme dapat menjadi penghela transformasi. Idealisme dapat menumbuhkan komitmen yang kuat dan kesediaan berkorban dari para anggota. Komitmen dan kesediaan berkorban ini sangat diperlukan kerena proses transformasi sering kali penuh dengan ketidak pastian, berjalan relatif lama dan hasilnya sering tidak cepat dapat dilihat. Apabila tidak ada komitmen dan kesediaan berkorban, transformasi akan berhenti sebelum waktunya. Idealisme menunjukkan arah transformasi. Arah ini sangat penting agar supaya komunitas dalam institusi dan anggotanya tidak tersesat dalam hiruk-pikuknya perubahan dan pertarungan berbagai kepentingan. Persaingan global dewasa ini pada satu sisi dapat dilihat sebagai persaingan dalam mengendalikan masa depan. Idealisme adalah unsur utama dalam upaya mengendalikan masa depan. Kalau sebuah institusi tidak berusaha mengendalikan masa depannya, maka pihak lain yang akan mengendalikannya.
Idealisme adalah juga sumber motivasi bagi anggota. Idealisme membantu satu kelompok atau seseorang bangkit kembali dari kegagalannya. Akhirnya idealisme akan menumbuhkan perasaan bahwa orang yang bersangkutan melakukan sesuatu yang berarti, yang penting dan bermakna.
Sebenarnya kenyataan tentang besarnya peran idealisme dalam transformasi institusi bukanlah hal baru. Perjalanan sejarah bangsa Indonesia menunjukkan bahwa perjuangan mencapai kemerdekaan yang merupakan proses transformasi luar biasa di bumi Indonesia ini digerakkan oleh idealisme yang sangat kuat . Para pendiri republik ini, seperti Bung Karno, Bung Hattta dan rekan-rekan seperjuangannya adalah tokoh-tokoh yang mendorong proses transformasi bangsa ini dengan menyalakan api idealisme di batin semua lapisan masyarakat Indonesia.
Di samping idealisme, karakter mempunyai peran besar dalam proses transformasi institusi. Di sini yang dimaksud dengan karakter adalah ‘distinctive trait, disticntive quality, moral strength, the pattern of behavior found in an individual or group’. Dalam transformasi institusi ada beberapa dimensi karakter yang sangat penting, yaitu integritas, kepercayaan-diri, kedewasaan, mentalitas-berkelimpahan (abundance mentality), kegigihan, dan semangatmemperbarui diri.
Esensi dari integritas adalah kejujuran, ketulusan dan memegang teguh standard moral yang tinggi. Integritas ditujukkan oleh kesesuaian antara nilai-nilai yang dipegang dengan kebiasaan, kesesuian antara perkataan dengan perbuatan dan kesesuaian antara ungkapan dengan perasaan. Idealisme perlu disertai dengan integritas agar seseorang atau proses transformasi tidak terperangkap pada tujuan menghalalkan cara. Integritas yang tinggi merupakan prasyarat bagi pemberian ruang yang lebih luas untuk pengendalian-diri. Integritas diperlukan untuk menjamin agar kebebasan yang diberikan dipakai secara bertanggung jawab. Integritas sangat diperlukan untuk membangun rasa saling percaya dalam sebuah komunitas.
Organisasi memang sebuah keniscayaan rasional dalam rangka mewujudkan cita-cita kolektif anggotanya. Hanya organisasi tujuan besar berikut kompleksitas cara mengendalikannya dapat dicapai dan disederhanakan (rasional). Namun demikian, ketika rasionalitas dijadikan satu-satunya motif perilaku organisasional (human relation),organisasi berubah menjadi penjara para anggotanya. Interaksi menjadi sangat formal, kaku, dan terbatas. Kerendahan hati, yakni kemauan secara ikhlas menanggalkan segala atribut struktural dan kultural, segala formalitas yang kaku itu dapat diretas menuju human relation yang berkualitas.
Setiap perilaku organisasional/sistem interaksi dipengaruhi atau dipandu oleh sistem nilai yang dianut oleh pelakunya (anggota organisasi). Nilai mendasari perilaku seseorang. Hati merupakan sumber nilai tertinggi dalam interaksi. Di dalam hati terdapat sejumlah nilai-nilai Ilahiyah (bersumber dari Tuhan) yang mampu memberi kesejukan hidup bersama. Nilai-nilai itu jika diaktualisasikan ke dalam kehidupan kolektif organisasi akan memancarkan sinar kasih sayang berupa cinta. Hubungan interaksional, atau yang sering disebut hubungan antar manusia (human relation) yang dilandasi kecintaan kepada sesama akan menghasilkan hubungan manusia mutualisme yang tidak dapat digantikan oleh motif apapun.
Kerendahan hati merupakan pangkal tolak interaksi mutualisme, yang bisa diterima oleh siapa saja sekaligus mampu menembus batas-batas struktural dan kultural organisasi. Kerendahan hati adalah “Titik Tuhan“ (ﷲ), tempat di mana semua ras manusia (berpangkat atau pun tidak).
Pada garis besar dari semua kegiatan dalam suatu organisasi maupun secara individual adalah adanya suatu keinginan yang ingin dicapai dalam upayanya mencari Ridho Allah (Tuhan) dan memenuhi kewajiban sebagai makhluk Allah (Tuhan).
Wassalamu’alaikum Warohmatullohi Wabarokatuh
S. Prima. S, S.AP
Administrasi Negara, FISIPOL
Universitas Gadjah Mada
Yogyakarta
Kenichi Ohmae, The Borderless World: Power and Strategy in the Interlinked Economy’,
(McKinsey & Company, Inc., 1990)
James C. Collins, Good to Great:Why Some Companies Make the Leap …and Other’s
Don’t’, (Harper Business, 2001).
Jeffrey Pfeffer, The Human Equation: Building Profit by Putting People First, (Harvard
Business School Press, 1998).
Risalah ini disampaikan sebagai Pidato Ilmiah pada Sidang Terbuka Peringatan Dies Natalis ke 44 Institut Teknologi Bandung pada tanggal 2 Maret 2003 di Kampus Institut Teknologi Bandung.
Craig R. Hickman&Michael A. Silva, The Future 500: Creating Tomorrow’s Organizations Today’, (New American Library, 1987).
Peter M. Senge dalam Kata Pengantar Buku karangan Arie de Geus, The Living Company, (Harvard Business School Press, 1997), vii-ix
Victoria Neufeldt & David B. Guralnik, Webster New College Dictionary, (Third Edition, MacMillan, 1996), h.235
Stephen R.Covey, The 7 Habits of Highly Effective People, (Simon&Schuster, 1989), h.217